Wednesday, 29 June 2011

kecewa

Libur nih hari ini, awalnya mau ke PRJ, gagal karena ternyata kemarin gue keseleo. Keseleo karena gue melakukan latihan yang sangat sangat sangat tidak berguna. Besok ceritanya ada perpisahan dosen, gue sama sekali tidak ingin ikut ambil bagian dalam acara ini tapi apa boleh dikata, terpaksa ikut dan selalu meyakini dalam hati, tidak ada masalah ini yang terakhir kalinya. Setiap latihan tidak pernah ada hasil, menentukan jadwal latihan bentrok dengan jadwal gue mengurus surat-surat kepindahan gue, dan kemarin latihan lutut kanan gue keseleo membuat gue kehilangan keseimbangan, apa ada yang mempedulikan keadaan gue? TIDAK SATUPUN. Perjalanan pulang dari UNJ Rawamangun ke Pamulang adalah perjalanan terberat yang pernah gue jalanin, menahan sakit dan tangis sepanjang jalan.

Hari ini memutuskan di urut, ditelponlah Bude untuk ngurut gue, and it hurt like hell :'(. Siaal, sepertinya besok gue tidak bisa jalan. Gue sms ke salah satu TEMEN yang entah penanggung jawab acara itu atau apalah, dia cuman bales "yaah terus gimana dong, besok harus bisa dong pink please" saat nerima sms itu gue tertawa, gue bilang kaki gue keseleo dan dia bilang besok harus bisa, itu bukan balasan yang ingin gue dapat. Lalu dia bilang "olesin conterpain" dan "jangan menyerah", dia pikir gue bego apa, saat sampe rumah semua orang yang ada dirumah juga udah berusaha mengempeskan lutut gue.

Kecewakah gue pada sikapnya? Sangat. Gila yaa, Irwan, yang gue kenal setengah tahun lalu dan bertemu dijalan saat gue bilang kaki gue keseleo dia minta gue istirahat 3 atau 4 hari untuk menyembuhkan total kaki gue. sedangkan dia, gue mengenalnya dua tahun yang lalu, dia malah MINTA gue untuk menyembuhkan kaki gue besok. Teman macam apa? Lebih mengkhawatirkan acaranya daripada keadaan gue.

Saturday, 25 June 2011

pesan singkat untuk Abang

Untuk Abang. Maaf aku menulis disini, aku terlalu takut untuk mengatakan langsung padamu, banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu. Aku tidak begitu yakin kau akan membaca ini, tapi aku berharap kau membacanya, karena entah bagaimana aku ingin kau tau apa yang sebenarnya aku rasakan terhadapmu, walaupun ini memalukan untukku.

Abang, sepertinya aku menyukaimu, aku mencintaimu dan aku menyayangimu. Katakan jika aku salah, karena aku tidak ingin semua menjadi seperti ini. Kemarin saat kau bilang kau belum menikah, jujur ada perasaan tenang dalam diri ku, karena aku tidak perlu merasa bersalah telah menggenggam tangan seorang pria yang telah beristri.

Abang kau ingat saat kau bertanya apa aku mencari mu selama kau pergi? Kau ingat aku tidak pernah menjawab pertanyaan itu? Aku hanya takut untuk mengungkapkannya. Ya aku mencarimu, itu jawaban ku, apa itu jawaban yang ingin kau dengar dari ku?

Kau pria dewasa berumur 29 tahun dan aku? Aku hanya anak ingusan yang berumur 20 tahun dan tidak begitu yakin akan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan saat ini. Kau bilang 20 tahun harusnya sudah dewasa, tapi aku tidak. Kau tau apa yang membuat aku takut menjadi dewasa? Orang-orang seperti kaulah yang membuat aku takut, dunia orang dewasa itu rumit penuh dengan ilusi.

Sebenarnya apa yang kau inginkan dari ku? Aku meninggalkan orang yang mencintaiku dengan setulus hatinya hanya untuk mu, apa itu yang kau inginkan? Menjadi orang yang tidak berperasaan. Kau membuatku merasa dicintai, membicarakan hal-hal aneh dan melewati batas kewajaran, kau memeluku, merangkulku, menggenggamku seakan kau tidak akan pernah melepasku, lalu kau menghilang, meninggalkan aku sendiri dalam ketakutan. Aku membencimu bang, menyalahkanmu atas apa yang terjadi pada diriku, aku tidak bisa menjadi dewasa jika berada didekatmu.

Thursday, 23 June 2011

Abang

Banyak yang mempertanyakan siapakah Abang sebenarnya?

Namanya adalah Abdul Rosyid, nama yang sama seperti almarhum kakek gue. Pertama kali bertemu dengannya? Tidak tahu kapan, sekitar satu setengah tahun yang lalu mungkin, tapi yang pasti gue inget adalah gue bertemu dia di dalam bus TransJakarta BusWay dan yaa memang dia bekerja di TransJakarta BusWay, sebagai SatGas OnBoard aka kenek BusWay. Dia cukup tua, kelahiran tahun '82, dimana itu berarti dia lebih tua sembilan tahun dari gue.

Dia ganteng tapi tua, itu adalah tanggepan pertama gue saat dulu melihatnya pertama kali, gue tebak dulu saat dia muda dia lumayan bisa dibanggakan dan sepertinya dia sudah menikah, DITAMBAH dia yang galak dan jutek, jadiii ya gue biasa aja, lagipula saat itu ada yang lebih menarik hati. Hahaha.

6005, nomor punggung yang tertulis di belakang baju seragamnya, agak nyaru sama 6051 yak. Hhuehehehe. *maksa* Gue sering sama dia, tanpa disengaja ya itu juga, jadi gue sering memperhatikannya, tapi seperti yang gue bilang tadi dia galak jadi gue agak sedikit takut sama dia :))

gue inget, hari itu hari selasa, hari dimana dia menolong gue. Hari itu gue masuk jam 10 untuk kuliah PsikoPer, gue memakai kemeja putih gue yang kegedean, yang gue ingat gue telat, untung hari itu jam 9an busway nggak sepenuh dan sesesak sekarang. Naik dari pertanian, gue berbaris dan mengantri dengan sabar, sebenarnya bus sebelumnya adalah 6051, gue mau naik tapi terhalang oleh bapak-bapak depan yang tidak ingin naik "sial! pak' minggir dong klo nggak mau naek, nggak liat itu si Hamzah" ujar gue dalam hati. Yasudahlah, menanti bus berikutnya dengan hati sedikit dongkol, akhirnya datang juga bus itu, gue melihat nomor itu 6005, mau nggak mau gue naik. Busnya cukup penuh dari bus sebelummya tapi gue tetap memaksa masuk. Disanalah dia ada untuk menolong gue, saat gue melangkah masuk, bapak-bapak depan gue, yang bikin gue nggak bisa naik sama 6051, mundur dan mendorong gue cukup keras, Abang merangkul gue dengan tangan kirinya dan mendorong bapak itu dengan tangan kanannya dia membentak bapak itu "pak hati-hati, adenya hampir jatoh" gue sedikit shock saat dia menyebut gue ade. Haha. Setelah pintu ketutup tentu gue merasa harus mengucapkan 'terimakasih', saat ingin berbalik dia menarik gue dan memberikan gue tempat untuk berdiri disampingnya, gue mencoba mengatakan 'terimakasih' lagi, dia hanya memandang gue dengan tatapan paling juteknya dan berpaling, saat itu gue benar-benar berpikir "oke, orang ini aneh". Setelah hari itu gue tidak pernah bertemu dengannya lagi, karena gue cukup malu dengan kejadian itu.

suatu malam sabtu, hari Jumat, gue naik bersama dia lagi, karena gue belum sempat mengucapkan terimakasih hari itu, gue berdiri di sampingnya dan bodohnya gue sambil makan Choki-Choki, untungnya dia tidak marah dan membentak gue, ingin sekali mengucapkan kata itu, tapi sayangnya gue terlalu takut dan malu untuk memulai pembicaraan. terimakasih banget untuk Aulia 'Uli' Tirani, berkat dia Abang memulai obrolan,

"temennya mana?" dia bertanya dengan sedikit senyum diwajahnya,

saat itu gue benar-benar tidak tahu si Uli ngilang kemana, gue bengong dengan tampang bego gue

"udah turun barusan" dia melanjutkan kata-katanya, sepertinya saat itu dia puas ngerjain gue, karena dia benar-benar tertawa saat mengatakan itu.

'sial, tega bener si Uli ninggalin gue' dalam hati gue, tetap dengan tampang bingung, gue bilang "serius dia turun? ko nggak bilang?" lalu saat gue melihat kursi penumpang disanalah si Uli lagi asik tidur. hahaha.

dia bertanya banyak hal tentang gue, dan sampai sekarang gue masih menyesal kenapa hari itu gue tidak bertanya apakah dia sudah menikah atau belum. setelah hari itu semua semakin mudah, dia mulai bersikap baik dan semacamnya. lagi-lagi dia menolong gue, saat minum gue tumpah di dalam bus, dia yang mengeluarkan semua isi tas gue dan memegangnya, dan berusaha untuk menumpahkan semua air yang ada ditas gue. dia yang meminta plastik dari penumpang lain dan menyuruh gue untuk berkata "itu dikasih plastik sama ibunya tuh, bilang makasih dong" dan dengan bodohnya gue bilang "ibu makasih ya". hadeeeeuuuuuh, PA amat dah gue.

Dia selalu menyemangati gue setiap pagi, saat gue tidak mendapatkan pegangan dia selalu memberikan tangannya untuk gue pegang, dia selalu memberikan gue tempat untuk bersandar. sekarang dia udah nggak jadi OnBod lagi, kangen sama masa-masa itu.

Monday, 20 June 2011

Sohib

Hampir setahun gue mengenal sohib, gue melihat dia adalah pribadi yang menyenangkan, yang cepet akrab sama orang, anaknya lucu, lucu banget, kocak, periang, baik, cuek, sedikit jutek memang tampangnya tapi dia asik untuk diajak bicara, tidak ada kesedihan yang terlihat diwajahnya.

Dia selalu menceritakan hal-hal yang membuat gue tertawa entah itu fiktif atau memang benar-benar nyata.

Gue suka semua hal darinya, sifatnya, sense of humornya, semuanya. Bahkan sikap cueknya, terkadang sikap itu yang membantu pertemanan kita tetap lancar. Haha. Tapi seberapapun cueknya dia, dia tetap peduli sama temannya. Saat gue memiliki masalah dan butuh seorang teman, dia bisa menjadi salah satu pendengar yang baik dan terkadang setiap kata yang keluar dari mulutnya itu, woow, sangat mengejutkan, walaupun tempat curhatnya nggak banget.

Dia sering menceritakan tentang bagaimana pekerjaannya, tentang hari-harinya dia. beberapa kali dia bilang jika dia memiliki masalah, dia cerita tapi biasanya dipertengahan dia akan menyudahi ceritanya dan bilang "yaudahlah cerita yang laen aja", ya gue sih tidak pernah memaksa untuk dia bercerita, mungkin karena gue pada dasarnya memang bukan teman curhat yang baik. Hhehe.

Hari ini, dia bilang ingin menceritakan sesuatu, gue bilang silahkan, gue pikir dia akan menceritakan hal-hal konyol dalam hidupnya, tapi hari ini berbeda, dia bercerita dan gue melihat matanya memerah, gue melihat air mata itu keluar dari matanya saat itu dia membalikan badannya dan tidak membiarkan gue melihatnya. Saat itu gue hanya bingung harus melakukan apa, seperti yang gue bilang, gue bukanlah teman curhat yang baik, jika ingin curhat silahkan gue akan mendengarkan tapi jangan harap gue akan memberikan saran yang bagus. Hehe. Saat gue melihatnya, gue hanya bingung, gue cuman bilang "udah, jangan dipikirin" dan langsung ngasih dia lollipop. Dia ketawa dan mukul gue pake lollipop yang gue kasih tadi.

Tapi gue bahagia, bukan karena bahagia melihat Sohib menangis. Gue hanya bahagia karena entah bagaimana, gue merasa jika Sohib benar-benar menganggap gue ada dan benar-benar mempercayai gue. beneran deh, untuk pertama kalinya gue merasa seperti itu. Dan gue mengerti sekarang, seberapapun dia menampakan wajah yang ceria dia juga memiliki hati yang terluka.

Saturday, 18 June 2011

Saat Dia Kembali

Enam bulan lima belas hari Abang menghilang, tanpa mengatakan sepatah katapun, dia meninggalkan gue begitu saja. Membiarkan gue mencarinya tanpa tujuan, membiarkan gue menantinya, membiarkan gue hidup dalam kegundahan. Hhaha. beberapa bulan pertama memang sangat berat, tanpa kepastian dia dimana gue tetap menunggunya.

Beberapa bulan berlalu, sampailah gue pada suatu titik dimana gue mulai merelakan dia pergi, gue mengetahui jika ternyata dia naik jabatan makanya dia tidak pernah lagi bisa gue temui, ada sedikit rasa bangga sebenarnya.

Tanpa rasa dendam atau semacamnya gue melanjutkan hidup, gue sama sekali tidak pernah menyalahkan dia atas kepergiannya, yaaa mungkin sedikit kali yah. Melanjutkan hidup tanpa Abang, sedikit menyebalkan memang, kalian tau? Entah apa yang merasuki gue, gue hanya merasa sangat aman dan nyaman saat bersamanya, gue merasa sangat dihargai saat disampingnya dan yang pasti gue merasa sangat bahagia saat berada disebelahnya, tidak tau kenapa, mungkin karena Abang jauh lebih dewasa dibandingkan gue, dan gue pribadipun tidak pernah "dekat" dengan pria yang tua *Ooops, salah* dewasa maksud saya. Hhaha.

Sebulan yang lalu dia muncul kehadapan gue, gue pikir gue baik-baik saja, karena memang gue baik-baik saja saat pertemuan itu berlangsung, sedikit shock tapi gue masih bisa mengendalikannya, gue masih bisa mengontrol diri gue.

Hidup gue baik-baik saja, sedikit memikirkan dia dan kenangan itu muncul, tapi sekali lagi gue tegaskan, gue masih bisa mengendalikan semuanya, gue bahkan mentertawakan diri gue sendiri dan berpikir betapa bodohnya gue saat itu.

Sampai kemarin saat kita tidak sengaja bertemu, semuanya menjadi diluar kendali gue. Gue menjadi tidak tercontrol, entah dari mana semua tingkah bodoh gue itu datang.

Entah apa yang gue rasakan hari itu, harus gue akui sebagian dari diri gue cukup senang dengan kedatangannya lagi, guepun mulai tergoda kembali. Tapi ada bagian dari hati gue yang berteriak, hati yang pernah terluka.

Sebagian dari diri gue yang masih bisa berpikir waras marah, bisa-bisanya dia datang kembali kedalam hidup gue, tanpa rasa bersalah dia kembali menggoda, tidakkah dia sadar kepergiannya sudah membuat luka besar dalam hati gue, walau gue tau ini bukan sepenuhnya kesalahan dia. Gue cukup berjiwa besar untuk mengakui tujuh puluh lima persen dari apa yang terjadi pada diri gue adalah kesalahan gue sendiri.

Bagaimanapun, sepertinya gue membiarkan nafsu dan keegoisan gue menguasai gue, gue memutuskan untuk tidak melepaskan Abang begitu saja seperti yang dulu walaupun hal itu bukanlah yang diinginkan oleh akal sehat gue.

Jakarta; nerakaku surgaku

Walaupun gue bukan orang Jakarta nih, tapi gue cinta, bener-bener cinta sama Jakarta, dengan sepenuh hati. *Asiiik dah bahasa gue. Hhaha* :))

Sebagai orang luar Jakarta yang hampir setiap hari pergi ke sana, dan menghabiskan sepanjang hari dengan melihat kehiruk pikukan yang terjadi di setiap sudut kota, gue tetap menikmatinya.

Saat kemacetan tidak lagi bisa dijadikan alasan untuk datang terlambat, gue tetap akan setia dengan kota ini.

Hidup dipinggiran Jakarta, dimana Jakarta Kota jauh lebih dekat dari tempat tinggal gue dibandingkan Tangerang Kota, gue lebih suka menghabiskan waktu gue, menghilangkan penat gue, mengejar kebahagiaan gue di Jakarta.

Jakarta diguyur hujan adalah yang terbaik bagi gue *ka Ros pernah bilang "ujan itu bawa berkah, klo ujan terus doa, Insya Allah doanya dikabulin", yaaah kurang lebihnya si Njos ngomongnya begitu, gue juga udah lupa*, karena saat hujan turun tidak ada ketegangan di langit Jakarta, tidak ada emosi, polusipun berkurang, tapi setelah hujan tentu saja dapat dipastikan kemacetan akan terjadi.

Setiap siang jika tidak hujan, maka Jakarta akan disinari oleh matahari yang membara. Panasnyoooo Jakarta itu. Panasnya sampai membakar kulit dan merasuk ketulang. Jakarta selalu membuat gue mandi keringat di jalan, ditambah kemacetan yang juga terjadi disiang hari, untung ada TransJakarta BusWay.

Malam hari tidak kalah hebatnya. Walau malam hari, terkadang tidak jauh beda dengan pagi atau siang hari yang selalu macet, tapi dimalam hari pesona yang dimiliki kota ini bisa terlihat jelas. Perpaduan cahaya yang datang dari mobil dan motor yang melewati jalanan Jakarta, lampu jalan yang berdiri tegak di setiap jalanan ibu kota dan gedung-gedung tinggi yang ada membuat Jakarta terlihat lebih bersahabat.

Thursday, 16 June 2011

Takdir

Jadi kemarin, gue bertemu Abang dan ngobrol cukup lama di halte busway Kuningan Timur. Kejadian kemarin itu benar-benar diluar skenario yang telah gue buat untuk bertemu Sohib. Sumpah tidak pernah terpikirkan dalam benak gue untuk berharap hal itu terjadi dan gue bahkan tidak berani sekalipun untuk mengkhayalkannya.

Gue sama sekali tidak menyadari keberadaannya karena dia terlihat berbeda, sangat berbeda.

KRONOLOGIS KEJADIAN:

Kuningan Timur (TransJakarta BusWay's Shelter). Rabu, 15 Juni 2011.

12.57 pm, gue benar-benar cape saat sampe KunTi, sesampainya disana gue memilih untuk duduk, minum dan makan Choki-choki yang gue beli di depan UNJ saat pulang tadi. Selang beberapa menit gue berdiri, karena gue memang tidak begitu betah untuk duduk terlalu lama.

01.01 pm. Datanglah sepasang kakek-nenek dari pintu masuk, saat mereka berdua masuk gue sempat melihat sosok seseorang yang mirip sekali sama Abang di ujung, hanya saja dia sedikit berbeda, sehingga gue kembali memperhatikan kakek-nenek itu. Si kakek menggandeng erat tangan si nenek, mereka berdua sungguh luar biasa.

01.05 pm. Kakek-Nenek itu akhirnya naik juga ke ragunan. Dengan choki-choki masih dimulut, gue tidak menyadari jika gue tersenyum, setelah melihat ke serasian mereka dan berfikir bisakah gue seperti mereka, mempertahankan cinta gue sampai mati :))

Sampai akhirnya sebuah suara ghaib membuyarkan lamunan gue, seorang pria berbisik kekuping kanan gue dan bertanya "mba, Dukuh Atas kearah mana ya?", saat gue nengok dan memandang wajahnya, dunia seperti berhenti berputar *kaya di film-film gitu deh, tapi kenyataannya emang begitu, gue nggak bohong dah*. Wajah itu, wajah yang pernah gue kenal, dan sangat tidak asing lagi. Saat memandangnya otak gue seperti diobrak-abrik, seakan-akan semua kenangan orang ini yang telah gue susun rapih disetiap sudut otak gue dengan susah payah memaksa untuk kembali keluar.

Yeaaah, pria ini memang pria yang pernah gue kenal, dia adalah Abang. Saat itu gue hanya tersenyum dan memutuskan untuk kabuuuur, tapi lalu dia menarik tas gue. Dengan sekuat tenaga gue menahannya *orang yang melihat mungkin akan berpikir gue adalah seorang pencuri atau apalah yang sedang dikejar*. Lalu dia berhasil memegang tangan gue dan menarik gue, guepun menuruti permintaannya untuk duduk disampingnya.

Gue duduk disampingnya, dia sama sekali tidak melepaskan genggamannya, dan dia berkata "makan sendirian aja tambah endut baru tahu rasa", gue langsung memberikannya Choki-Choki yang sebenarnya gue beli untuk Sohib. Gue langsung menarik tangan gue dari genggamannya dan membuat pernyataan "berarti sekarang lu utang gope buat Choki-Chokinya yak". Dia langsung ngomong "kamu nyariin aku nggak kemarin-kemarin?" gue menyadari gue langsung gelagapan saat dilemparkan pertanyaan seperti itu, gue langsung mengalihkan pembicaraan "iiiih kamu beda banget sih tanpa seragamnya kamu yang lucu itu" sambil mencubit pipinya, dan bodohnya itu memberikan kesempatan ke dia untuk menggenggam tangan gue lagi, sumpah gue nggak tau dari mana semua ucapan dan sikap itu berasal. "kenapa? Tambah ganteng ya?" dia bertanya lagi, gue menimpalkan "hidiiih, cuiiiih, mbel, ganteng apanya?..." dengan memandangnya, gue tidak bisa memungkiri jika dia memang terlihat tampan dan jauh lebih baik "...nggak deh, kamu ganteng kok, guaaanteeng banget, udah ah, jadi jiji kita ngomongnya aku-kamu" lanjut gue. "yaudah... sekarangkan saya kerja di kp.rambutan ga mungkin juga pake seragam". Jika boleh jujur nih kemarin, saat bersama Abang, gue lebih banyak diam dan tertawa, karena gue benar-benar tidak tahu harus bicara apa, lagipula lebih baik diam daripada harus bicara dan keceplosan, urusannya jadi panjang nanti. Ngeliat gue ketawa-tawa dia melanjutkan bicara "sebenarnya saya tuh sering nyari kamu" gue langsung bengong aja gitu waktu denger dia ngomong gitu, gue nggak tau harus bilang apa, jadi dengan nada kesel gue bilang "Eh lu tuh niat nggak sih nyari gue? Klo nyari gue ya carilah di UNJ, gue kuliah disana, lu kan tau, setiap hari gue juga pasti naek busway, jadi klo lu nyari kesana bisa ketemu, klo mau ngibul pinter dikit mas, gue tau lu ga nyari gue, lagian penting banget lu nyari gue" gue shock waktu ngomong gitu dan berpikir 'gawat dia bisa tau gue demen sama dia' haha. "iiih ko kamu marah sih? Beneran, saya nyari kamu. Saya tuh mikirnya pasti akan ketemu kamu disini. Karena kamu juga naek busway dari sini" oke, gue tambah bingung mau ngomong apaan, jadi gue hanya bilang "saya saya! So tua lu, biasa aja sih, nggak usah pake saya, toh gue juga bukan bos lu" sepertinya dia agak kecewa saat gue bicara seperti itu, "gimana sih aku udah berusaha sopan sama kamu, kamunya ko gitu, kamu mahasiswa bukannya?". Yaaah, guepun sama kagetnya sama dia dengan ucapan gue. "maaf, hari ini aku nggak tau aku sial banget..." ya intinya sih gue ceritain semua kejadian yang gue alamin hari itu kedia, hebatnya gue ceritanya pake aku kamu. Hhhahahaha.


Tapi kemarin gue menyadari, sikap gue ke Abang kemarin bukan hanya karena hari itu gue sial, tapi juga karena gue begitu marah padanya. gue begitu kecewa saat dia pergi, lalu tiba-tiba setelah gue berhasil membuangnya jauh-jauh dari pikiran gue, dia kembali datang, dia bicara tanpa rasa bersalah. jika ternyata gue begitu marah, apa gue salah?

Heeiii, perasaan apakah ini?

Tadi, hari ini, bertemu Abang lagi, walaupun tadi bukanlah pertama kalinya gue bertemu Abang lagi setelah dia menghilang tiba-tiba karena gue pernah bertemu Abang sebelumnya, sekitar sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 2 Mei 2011. Saat itu gue pikir semua rasa untuknya sudah tidak ada lagi, karena saat itu, walaupun gue cukup deg-degan saat melihatnya, gue masih bisa menahan diri dan saat dia pergi dengan senyumnya, sesedih apapun gue, gue masih bisa membiarkannya pergi.
Tapi hari ini, entah bagaimana, keadaan kembali seperti semula, kembali kemasa lalu, dia menggenggam tangan gue dan membiarkan gue bersandar. Pesonanya kembali menggoda iman gue.
Gue sangat tidak suka saat Abang menggenggam tangan gue, tapi anehnya gue selalu membiarkan dia untuk menggenggam tangan gue dan berharap dia tidak akan pernah melepaskannya, guepun takut tidak akan bisa merelakannya pergi. Benci saat dia membiarkan gue bersandar dipundaknya, tidak bisakah dia membentak gue dan bilang jika gue tidak boleh melakukan hal itu, dia malah membuat gue merasa semakin nyaman berada di sampingnya. Benci saat teman-temannya mulai memikirkan hal yang aneh-aneh tentang kita berdua, dia tidak membela diri sama sekali. Dan yang paling gue benci dari dia adalah karena menurutnya gue itu lucu, tidakkah dia mengerti gue tidak ingin menjadi lucu dimatanya, gue ingin lebih dari lucu.

Wednesday, 15 June 2011

Lebih dari yang diharapkan

Oke, jadi kenapa gue menulis sebuah tulisan berjudul "lebih dari yang diharapkan"? Abis gue juga bingung mau ngasih judul apa. Hhehe.

Sebenarnya hari ini gue berniat untuk menunggu Sohib, untuk menanyakan sesuatu yang amat sangat penting, tapi karena gue pulang jam 11.30 am dan kebetulan si Sohib masuk siang juga, jadi pulangnya gue memutuskan untuk naik busway kor 10 sama kor 9. Dan dimulailah perjalanan gue keliling busway, dari UNJ ke BPKPnya tidak masalah yaah gue berdiri, wong cuman satu shelter doang, dan gue juga mikir gue nggak bisa lama-lama jika mau ketemu Sohib. Jadi jalanlah gue, menyusuri panjangnya jembatan di BPKP, dengan sabarnya gue menanti bus yang tak kunjung tiba, 15 menit berlalu, tibalah busnya, bus berwana merah yang sudah sedikit usang dan yang panasnya sungguh menyiksa orang-orang didalamnya, sedikit bersyukur karena gue mendapatkan tempat untuk duduk walau itu bangku sempitnya luar biasa. Bodohnya lagi gue pake acara turun di Cawang Sutoyo yang ternyata TraJa yang ke Grogol tuh ga ada yang lewat situ. Setelah gue bertanya dengan seorang pria yang cukup tampan dan baik hati, pergilah gue ke Cawang Uki, pas nyampe Cawang rameeee nyoooo mantab, dalem hati agak mikir juga sih, pantes Cawang Sutoyo sepi bener. Hhaha.

Di dalem bus, bus gandeng, gue berdiri di tengah-tengah dan waktu nyampe kuningan barat, ada segerombol anak 4L4Y yang berdiri tepat di depan pintu yang ditengah, jadi gue dan 3 orang lainnya tidak bisa keluar, sempat terjadi adu mulut yang sangat seru sebenarnya antara gue dan 3 penumpang lainnya dengan si mas-mas 4L4Y itu dan kami (gue dan 3 orang lainnya) terpaksa harus ke Semanggi. Jadi gue harus kembali menelusuri jembatan lagi untuk yang ke dua kalinya, awalnya mau ke Dukuh Atas aja tapi setelah dipikir-pikir Semanggi-BenHil itu jauuuuhnya di luar dari yang bisa dibayangkan jadi gue mengurungkan niat untuk pergi ke DuTas dan lebih memilih untuk kembali ke Kuningan Barat walau tetap harus melewati jembatan tapi setidaknya jembatannya tidak sejauh Semanggi.

Gue udah nyampe Kuningan Barat nih ceritanya, jalan dengan penuh emosi, gue sama sekali tidak peduli dengan semua orang yang berpapasan dengan gue. Hhaha. Sampai ada sesosok anak muda yang sudah lama tidak gue lihat dan dia mengagetkan gue dengan senyum kecilnya yang agak aneh. Hhuehehe.

Lagii lagi untuk yang ke tiga kalinya gue menyebrangi jembatan, dan yaaah tentu saja gue engos-engosan, jadi gue duduk dan istirahat sebentar sambil makan choki choki, gue mulai berdiri untuk menunggu bus. Tiba-tiba ada seorang pria bodoh yang bertanya dimanakah Dukuh Atas berada saat gue sadari pria bodoh itu adalah Abang, dan dia menarik tas gue, saat gue marah dia menggandeng tangan gue dan meminta gue untuk duduk. Jadi gue duduk dan kita mulai lagi pertengkaran-pertengkaran kecil yang dulu selalu kita lakukan. Entah apa gue harus senang atau tidak bertemu dia. Karena bagaimanapun niat gue hari ini adalah Sohib bukan Abang. Ternyata memang benar apa kata orang, kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita entah itu semenit atau sedetik kedepan.

Thursday, 9 June 2011

BLOG BARUUUUU!

akhirnya bikin blog juga deh gue. sebenernya bikin blog juga cuman iseng-iseng aja, gue cuman mau tau aja, bagaimana cara kerjanya. hhahaha. tapi jujur dari dulu emang pengen banget punya blog, secara gue demen banget nulis-nulis yang nggak jelas gitu, tapi yaah, karena keterbatasan saya sama yang namanya teknologi akhirnya mengurungkan niat deh buat bikin blog, beneran gue sama sekali nggak tau apa gunanya blog. bukan cuman itu doang, gue juga nggak ngerti gimana cara maennya, cara ngedit-ngeditnya. agak sedikit norak sih, tapiiiiiii, yasudahlah yang penting bikin, lama-lama juga gue pasti tau gimana cara maenin blog ini.

jadi ini adalah tulisan pertama gue di blog baru gue, uhmmmm, emang agak nggak jelas sih, tapi emang guenya juga nggak jelas jadi ya begini deh, harap maklum aja yaahh.