Thursday, 23 June 2011

Abang

Banyak yang mempertanyakan siapakah Abang sebenarnya?

Namanya adalah Abdul Rosyid, nama yang sama seperti almarhum kakek gue. Pertama kali bertemu dengannya? Tidak tahu kapan, sekitar satu setengah tahun yang lalu mungkin, tapi yang pasti gue inget adalah gue bertemu dia di dalam bus TransJakarta BusWay dan yaa memang dia bekerja di TransJakarta BusWay, sebagai SatGas OnBoard aka kenek BusWay. Dia cukup tua, kelahiran tahun '82, dimana itu berarti dia lebih tua sembilan tahun dari gue.

Dia ganteng tapi tua, itu adalah tanggepan pertama gue saat dulu melihatnya pertama kali, gue tebak dulu saat dia muda dia lumayan bisa dibanggakan dan sepertinya dia sudah menikah, DITAMBAH dia yang galak dan jutek, jadiii ya gue biasa aja, lagipula saat itu ada yang lebih menarik hati. Hahaha.

6005, nomor punggung yang tertulis di belakang baju seragamnya, agak nyaru sama 6051 yak. Hhuehehehe. *maksa* Gue sering sama dia, tanpa disengaja ya itu juga, jadi gue sering memperhatikannya, tapi seperti yang gue bilang tadi dia galak jadi gue agak sedikit takut sama dia :))

gue inget, hari itu hari selasa, hari dimana dia menolong gue. Hari itu gue masuk jam 10 untuk kuliah PsikoPer, gue memakai kemeja putih gue yang kegedean, yang gue ingat gue telat, untung hari itu jam 9an busway nggak sepenuh dan sesesak sekarang. Naik dari pertanian, gue berbaris dan mengantri dengan sabar, sebenarnya bus sebelumnya adalah 6051, gue mau naik tapi terhalang oleh bapak-bapak depan yang tidak ingin naik "sial! pak' minggir dong klo nggak mau naek, nggak liat itu si Hamzah" ujar gue dalam hati. Yasudahlah, menanti bus berikutnya dengan hati sedikit dongkol, akhirnya datang juga bus itu, gue melihat nomor itu 6005, mau nggak mau gue naik. Busnya cukup penuh dari bus sebelummya tapi gue tetap memaksa masuk. Disanalah dia ada untuk menolong gue, saat gue melangkah masuk, bapak-bapak depan gue, yang bikin gue nggak bisa naik sama 6051, mundur dan mendorong gue cukup keras, Abang merangkul gue dengan tangan kirinya dan mendorong bapak itu dengan tangan kanannya dia membentak bapak itu "pak hati-hati, adenya hampir jatoh" gue sedikit shock saat dia menyebut gue ade. Haha. Setelah pintu ketutup tentu gue merasa harus mengucapkan 'terimakasih', saat ingin berbalik dia menarik gue dan memberikan gue tempat untuk berdiri disampingnya, gue mencoba mengatakan 'terimakasih' lagi, dia hanya memandang gue dengan tatapan paling juteknya dan berpaling, saat itu gue benar-benar berpikir "oke, orang ini aneh". Setelah hari itu gue tidak pernah bertemu dengannya lagi, karena gue cukup malu dengan kejadian itu.

suatu malam sabtu, hari Jumat, gue naik bersama dia lagi, karena gue belum sempat mengucapkan terimakasih hari itu, gue berdiri di sampingnya dan bodohnya gue sambil makan Choki-Choki, untungnya dia tidak marah dan membentak gue, ingin sekali mengucapkan kata itu, tapi sayangnya gue terlalu takut dan malu untuk memulai pembicaraan. terimakasih banget untuk Aulia 'Uli' Tirani, berkat dia Abang memulai obrolan,

"temennya mana?" dia bertanya dengan sedikit senyum diwajahnya,

saat itu gue benar-benar tidak tahu si Uli ngilang kemana, gue bengong dengan tampang bego gue

"udah turun barusan" dia melanjutkan kata-katanya, sepertinya saat itu dia puas ngerjain gue, karena dia benar-benar tertawa saat mengatakan itu.

'sial, tega bener si Uli ninggalin gue' dalam hati gue, tetap dengan tampang bingung, gue bilang "serius dia turun? ko nggak bilang?" lalu saat gue melihat kursi penumpang disanalah si Uli lagi asik tidur. hahaha.

dia bertanya banyak hal tentang gue, dan sampai sekarang gue masih menyesal kenapa hari itu gue tidak bertanya apakah dia sudah menikah atau belum. setelah hari itu semua semakin mudah, dia mulai bersikap baik dan semacamnya. lagi-lagi dia menolong gue, saat minum gue tumpah di dalam bus, dia yang mengeluarkan semua isi tas gue dan memegangnya, dan berusaha untuk menumpahkan semua air yang ada ditas gue. dia yang meminta plastik dari penumpang lain dan menyuruh gue untuk berkata "itu dikasih plastik sama ibunya tuh, bilang makasih dong" dan dengan bodohnya gue bilang "ibu makasih ya". hadeeeeuuuuuh, PA amat dah gue.

Dia selalu menyemangati gue setiap pagi, saat gue tidak mendapatkan pegangan dia selalu memberikan tangannya untuk gue pegang, dia selalu memberikan gue tempat untuk bersandar. sekarang dia udah nggak jadi OnBod lagi, kangen sama masa-masa itu.

0 comments:

Post a Comment