Saturday, 18 June 2011

Saat Dia Kembali

Enam bulan lima belas hari Abang menghilang, tanpa mengatakan sepatah katapun, dia meninggalkan gue begitu saja. Membiarkan gue mencarinya tanpa tujuan, membiarkan gue menantinya, membiarkan gue hidup dalam kegundahan. Hhaha. beberapa bulan pertama memang sangat berat, tanpa kepastian dia dimana gue tetap menunggunya.

Beberapa bulan berlalu, sampailah gue pada suatu titik dimana gue mulai merelakan dia pergi, gue mengetahui jika ternyata dia naik jabatan makanya dia tidak pernah lagi bisa gue temui, ada sedikit rasa bangga sebenarnya.

Tanpa rasa dendam atau semacamnya gue melanjutkan hidup, gue sama sekali tidak pernah menyalahkan dia atas kepergiannya, yaaa mungkin sedikit kali yah. Melanjutkan hidup tanpa Abang, sedikit menyebalkan memang, kalian tau? Entah apa yang merasuki gue, gue hanya merasa sangat aman dan nyaman saat bersamanya, gue merasa sangat dihargai saat disampingnya dan yang pasti gue merasa sangat bahagia saat berada disebelahnya, tidak tau kenapa, mungkin karena Abang jauh lebih dewasa dibandingkan gue, dan gue pribadipun tidak pernah "dekat" dengan pria yang tua *Ooops, salah* dewasa maksud saya. Hhaha.

Sebulan yang lalu dia muncul kehadapan gue, gue pikir gue baik-baik saja, karena memang gue baik-baik saja saat pertemuan itu berlangsung, sedikit shock tapi gue masih bisa mengendalikannya, gue masih bisa mengontrol diri gue.

Hidup gue baik-baik saja, sedikit memikirkan dia dan kenangan itu muncul, tapi sekali lagi gue tegaskan, gue masih bisa mengendalikan semuanya, gue bahkan mentertawakan diri gue sendiri dan berpikir betapa bodohnya gue saat itu.

Sampai kemarin saat kita tidak sengaja bertemu, semuanya menjadi diluar kendali gue. Gue menjadi tidak tercontrol, entah dari mana semua tingkah bodoh gue itu datang.

Entah apa yang gue rasakan hari itu, harus gue akui sebagian dari diri gue cukup senang dengan kedatangannya lagi, guepun mulai tergoda kembali. Tapi ada bagian dari hati gue yang berteriak, hati yang pernah terluka.

Sebagian dari diri gue yang masih bisa berpikir waras marah, bisa-bisanya dia datang kembali kedalam hidup gue, tanpa rasa bersalah dia kembali menggoda, tidakkah dia sadar kepergiannya sudah membuat luka besar dalam hati gue, walau gue tau ini bukan sepenuhnya kesalahan dia. Gue cukup berjiwa besar untuk mengakui tujuh puluh lima persen dari apa yang terjadi pada diri gue adalah kesalahan gue sendiri.

Bagaimanapun, sepertinya gue membiarkan nafsu dan keegoisan gue menguasai gue, gue memutuskan untuk tidak melepaskan Abang begitu saja seperti yang dulu walaupun hal itu bukanlah yang diinginkan oleh akal sehat gue.

1 comments:

Anonymous said...

Let him go beb, you're too fucking awesome for him

Post a Comment