Thursday, 21 July 2011

harus tetap seperti ini

"udah wan, putus aja sama cewek lu"

tiba-tiba saja gue memotong cerita Irwan. Gue tidak membenci Pacarnya, guepun tidak cemburu sama Irwan, gue hanya tidak suka saat Irwan membicarakannya, samakah artinya dengan cemburu? Sudahlah tidak usah kita membahasnya. Untungnya Irwan tidak marah dengan tanggapan gue yang tadi, dia hanya memberi senyum ala Irwansyah Hadi yang khas :)

"gue gampang suka sama cewe, tapi hati gue nggak gampang nerima seseorang"

asik bener dah yee kata-katanya si Bang Ganteng yang satu itu. Tapi gue juga begitu sih, wuuiih banyak yang gue demenin, tapi yang ada di hati hanya seorang Slamet Riyadi, Abang Rosyidpun kalah :D. Irwan bilang dia nyari pacar biar dia punya temen nelpon, dia tidak benar-benar mencintai pacarnya itu. Itu sebabnya gue menyuruhnya memutuskan pacarnya. Guepun tidak suka saat doi cerita tentang penumpang wanita lain di busway, bahkan saat dia menceritakan tentang salah seorang penumpang yang dia sukai, dia bilang "wanita" itu cukup menarik, orangnya nyantai, asik, kocak dan bla bla bla. Gue tidak mendengarkannya bicara sebenarnya, entahlah gue tidak peduli dengan mereka dan wanita itu, kenapa dia harus selalu membicarakan mereka. Rasanya mau teriak ke doi .

Gue nggak suka saat Irwan mengatakan

"mantan gue yang dulu di UNJ mirip sama lu, T-shirt, jeans, sepatu sama tas, semuanya mirip sama lu. Kemaren ketemu dia pas mau kerja, cakep dah dia pake seragam kerjanya, nyesel gue"

gue bilang ke dia

"tapi sayangnya gue beda sama mantan lu kan?"

dia bilang bedanya adalah gue itu lucu, kaya anak kecil. Sedangkan mantanya lebih dewasa. Gue diem setelah itu. Gue mengalihkan pembicaraan dengan kepindahan gue. Gue senang saat mendengar dia mengatakan betapa dia akan sangat merindukan gue.

Gue tidak ingin menyukainya. Gue lebih suka Irwan seperti ini, sebagai teman biasa dan teman curhat. Gue tidak ingin ada perasaan-perasaan aneh untuk dia. Gue benar-benar berusaha untuk tidak melakukan hal yang nggak wajar didepannya. Bahkan setiap tidak sengaja berpapasan, dia selalu sms dan bilang "seneng banget ketemu gue".

Tuesday, 19 July 2011

Transformer: dark of the moon

Huaaaaaaah, gue nggak sabar nonton Transformer 3, kapan tayang di Jakarta? Gue mau nonton para autobot beraksi, oiya sama si ganteng Capt. Lennox *huaaaah, unyu banget deh tu orang, nggak bohong, harusnya gue jadi istrinya tuh di transformer #ngarep*

liat-liat di webnya 21, Transformer sama Harry Potter masih Coming Soon. Seenggaknya klo coming soon itu udah pasti tayang kan yah? Hhahaha. Tapi kapan? Masih lama ya? Selama apa? Selama gue menanti Abangkah? Nggak deh, lama amat, klo selama gue menanti Abang kga bakal tayang-tayang dong :(( Ada yang bilang Harry Potter tayang dua minggu lagi, terus Transformer dua minggu juga kah?

Tapi klo dipikir-pikir dua minggu itu udah masuk bulan puasa, masa nonton pas bulan puasa? Nggak bisa cemil sana cemil sini dong (-___-"), lagi pengen Ice Green Tea blended.

Lagi bokek, mesti ngumpulin uang nih, temen-temen gue pada pengen nonton Harry Potter, gue pribadi sih lebih ngebet nonton Transformer. Gue lagi nggak punya duit, kecil kemungkinan gue bisa nonton dua-duanya, menyedihkan.

Thursday, 14 July 2011

PP 036

PP 036 adalah sebuah bus TransJakarta busway, bus yang selalu mengingatkan gue pada seorang Slamet Riyadi, seorang OnBoard busway yang menurut gue sangat baik dan sopan walaupun harus selalu menghadapi penumpang yang terkadang harus gue akui sendiri agak sedikit menyebalkan.

PP 036 adalah busway kenangan gue sama si mas Slamet ini, yaaah seperti yang kalian ketahui gue adalah orang yang lebai :D. Senyumannya, kebaikannya, kesopanannya, kesabaranya tidak ada yang bisa mengalahkannya, gue belum pernah bertemu dengan pria seperti ini, di Jakarta orang seperti ini sudah jarang ditemukan.

PP 036, berkali-kali bertemu Slamet di bus ini, berkali-kali melakukan hal memalukan di bus ini, di bus ini pula gue terakhir melihat anak muda itu.

Hari ini naik PP 036 tanpa disengaja, amat sangat berharap saat memalingkan kepala ada seorang Slamet sedang berdiri bertugas di pintu busway, tapi harapan hanya akan berubah menjadi kecewa, dipintu berdiri seorang pemuda tapi itu bukanlah Slamet Riyadi, dia adalah Dede Priatna, yaa mau diapakan lagi, udah nasib. Duduk dibangku belakang tengah, yang membuat gue bisa melihat setiap sudut PP 036. TraJa hari ini kosong, gue memandang berkeliling, mulai berkhayal dan pikiran gue melayang kemasa-masa kejayaannya Slamet Riyadi.

Gue bisa melihat dengan jelas Slamet Riyadi berdiri dipintu, dengan senyumnya, dengan anggukan kepalanya. Dia memandang gue dan kita (gue dan Slamet Riyadi) tersenyum menahan tawa, itu bukanlah sebuah khayalan belaka, itu datang dari kenangan masa lalu yang benar terjadi berbulan-bulan yang lalu, kita benar-benar saling pandang dan tertawa, kenapa? Di PP 036, gue pulang dan satgas hari itu Slamet Riyadi, cuaca saat itu sangat terik, jalanan Jakarta seperti biasa ramai dan lancar, traja kosong, Slamet menegur seorang siswa SMA yang makan di dalam bus, dengan tegas tapi tetap sopan dan tersenyum *yang mengingatkan gue pada beberapa satgas busway yang terkadang membentak saat melarang penumpang*. Setelah selesai dia memandang gue, mengangkat bahunya dan tersenyum sambil menggigit bibir. Gue bener-bener mau ngakak saat itu. Sebenernya kalo gue cerita kayanya ga lucu ya? Itu lucu bukan karena apa yang dilakukan Slamet ataupun gue, yang lucu adalah siswa SMA itu, anak yang makan yang ditegur oleh Slamet. Bagaimana tidak lucu, anak ini makan nasi dengan daging menggunakan tempat makan dan sendok, sesuatu yang amat sangat tidak pernah gue pikirkan akan ada orang yang melakukan itu di dalam busway, di dalam ada tulisan berisi tentang larangan makan atau minum di dalam TraJa dan gambar sendok dan garpu yang dicoret, jangankan nasi terkadang makan permen atau biscuit saja ditegur petugasnya.

Di TraJa ini juga sirkam gue ilang, gara-gara petakilan ganti tempat duduk biar deket sama Slamet *udah kaya anak kampung naek busway*. Di Matraman kayanya sirkam gue jatuh.

Terakhir melihat Slamet Riyadi hari Jumat tanggal 31 Desember 2010 di PP 036, hari itu gue ingin naik TraJanya dia tapi terkadang apa yang terjadi tidak selalu seperti yang kita inginkan. Pagi hari gue mencari, jujur karena gue memiliki perasaan nggak enak setiap awal bulan yang tidak gue mengerti, Abang pernah bilang biasanya beberapa bulan sekali ada pergantian atau perpindahan atau apalah itu namanya dan biasanya dilakukan per tanggal 1. Sebenarnya gue tidak mengerti bagaimana sistem kerja atau peraturan disana, tapi perpindahan itu memang benar terjadi pada beberapa pegawainya. Yang gue takutkan adalah Slamet akan pindah dan gue tidak akan pernah melihatnya lagi. Hari itu tanggal 31 Desember, akhir bulan dan hari itu juga adalah hari dimana 2 koridor baru dibuka, yang seenggaknya walau gue tidak mengerti gue tidak bego-bego amat dan meyakini 2 koridor baru itu akan mengambil beberapa pegawai dari semua koridor lama. Gue cukup senang saat melihatnya hari itu, melihatnya berdiri di pintu dengan seragam batiknya yang konyol. Gue nggak naik TraJanya, bus yang gue taikin berpapasan dengan busnya dia selepas shelter Manggarai saat gue mengarah ke unj, ingin sekali turun dan menunggunya tapi hari itu gue sudah cukup terlambat.

Kebaikannya membuat gue sangat kehilangan dia, kesopanannya membuat gue sangat mengaguminya, kesabarannya membuat gue sangat merindukannya, senyumannya membuat gue sangat menyukainya.

Saturday, 9 July 2011

Kenangan Abang

Sedang tidak ada kerjaan, melamun mengenang masa lalu. Tentang Abang yang tidak akan pernah ada habisnya, gue menangis, malu dan tertawa setiap mengingatnya.

Saat itu antara hari Rabu atau Kamis, entahlah gue sedikit lupa, karena dia mengenakan seragam orange nya dia, saat itu siang, sekitar jam 2an dan gue sedang dalam perjalanan menuju rumah. Untuk pertama kalinya gue menyadari keberadaannya. Gue sendiri saat itu, yang gue ingat gue berdiri dipintu sebrang, TraJa hari itu tidak begitu penuh hanya ada beberapa orang yang berdiri, beberapa kali gue menangkap matanya sedang menatap gue dengan pandangan yang paling gue benci. Jadi gue melihat namanya, sedikit tersenyum saat mengetahui namanya seperti nama kakek gue, melihat nomor punggungnya 6005, saat ada balita turun dengan ibunya, dia menggoda balita itu *atau menggoda ibunya*.

Suatu hari selasa, dia menolong gue untuk pertama kalinya. Ternyata dia tidak sejahat tampangnya, walaupun hari itu dia tetap mempertahankan tampang juteknya.

Hari-hari berlalu dia mulai tersenyum dan mau bicara dengan gue. Setiap hari bertemu, gue mulai untuk tidak menghindarinya lagi, menyapa gue setiap hari. Gue mengatakan kepadanya betapa gue sangat membenci wajah juteknya, dia hanya tersenyum dan meminta maaf.

Jika gue tidak salah ingat, hari itu hari Rabu, hari dimana dia menolong gue untuk yang kesekian kalinya, dan hari yang sangat/paling memalukan gue didepannya dan seluruh penumpang busway. Minum gue tumpah selepas GOR Soemantri, gue merasakan sepatu gue basah, gue langsung mengeluarkan tempat minum gue, tapi gue membiarkan buku gue tetap berarada di dalam tas, dia menarik tas gue dan mengeluarkan isinya, gue malu saat gue menyadari betapa berantakannya tas gue. Dia memarahi gue, dan bilang betapa cerobohnya gue. Di shelter berikutnya *karet kuningat atau kuningan madya shelter setelah gor, gue lupa* dia menurunkan penumpang dengan setumpuk buku ditangan kiri dan tas gue menggantung di tangan kanannya, gue merasa bodoh, dia bekerja dan membawa semua barang gue sedangkan gue hanya bengong dan memegang botol minum yang airnya sudah tinggal seperempat. Saat dia masuk lagi ada seorang Ibu yang baik hati memberikan plastik oriflame besar miliknya ke Abang. Abang tau gue malu hari itu, dia membesarkan hati gue dengan mengatakan pernah ada penumpang yang lebih nyusahin dibanding gue T.T

dunia terus berputar, dia mulai berani menggenggam tangan gue, mengelus rambut gue yang diakui sendiri olehnya betapa dia menyukai rambut panjang gue, dan membuat gue memotong rambut gue saat dia menghilang.

Hari Jumat, saat itu gue mengenakan rok, yang kata Sohib gue terlihat lucu mengenakan rok itu. Saat itu Abang bilang gue terlihat lebih seperti seorang perempuan dan hari itu guepun sempat marah karena sesuatu dan gue lupa karena apa, tapi hari itu gue marah dari pukul 13.13 sampai 13.16, dia tertawa saat gue mengatakan itu. Itu adalah hal paling kekanak-kanakan yang pernah gue lakukan.

Pukul 17.30 wib saat itu, hari Rabu lagi, cuaca cukup mendung. Dishelter ada begitu banyak orang, ditambah bus yang jarang-jarang, kebetulan gue melihat JTM 029, bus berbentuk aquarium ini baru saja melintasi UNJ mengarah pl. Gadung dengan 6005 sebagai satgasnya. Beberapa orang dishelter mengatakan jika itu adalah express Ragunan-Pl. Gadung dan berpikir akan menunggunya, dan itu memberi gue ide untuk menunggunya juga, pergilah gue ke Velodrome, memilih menunggunya disana, hujan turun dengan diikuti kilatan cahaya yang menakjubkan. 30 menit berlalu akhirnya lewatlah dia. AC di dalam bus cukup dingin, harus gue akui saat itu gue benar-benar lelah, gue laper, gue ngantuk. Tampang kusut gue dipertanyakan oleh Abang, dia tersenyum dan minta gue untuk tetap semangat. Saat itu dia menggenggam tangan gue, gue merasa kepala gue berat banget dan melihat kaca yang sepertinya sangat dingin membuat gue menempelkan pipi gue dikaca itu. Dia melihat dan mengangkat kepala gue menjauhi kaca, dia tersenyum dan bilang jika kaca itu kotor, dia menyodorkan pundaknya dan gue menyandarkan kepala gue disitu, saat itu gue tidak memikirkan betapa tidak pantasnya gue melakukan itu di dalam busway, dan sekarang gue menyadari betapa bodohnya gue saat itu. Saat ada tempat duduk, dia menggandeng dan mengantarkan gue ketempat duduk, gue berasa kaya orang hamil jadinya. Haha. Sepanjang jalan dia menyuruh gue untuk tidur, tapi gue emang nggak bisa untuk tidur di bus.

Hari Jumat, saat itu gue sedang sangat tidak enak badan. Dia mengatakan sungguh terlihat dewasanya gue saat sedang sakit, tapi yang membuat gue senang adalah dia bilang dia merindukan gue yang biasanya, yang selalu pecicilan, yang selalu bikin ulah, yang nggak bisa diam, dia meminta gue untuk istirahat agar hari senin dia bisa melihat gue kembali seperti gue yang biasa.

Kemarin hari Rabu, 27 juni, terakhir bertemu Abang, dan salah seorang teman kerjannya menyangka jika gue adalah pacarnya dia. Sejujurnya ada sedikit rasa senang saat dibilang pacarnya :D

Thursday, 7 July 2011

Apa ini?

Lagi-lagi gue bimbang, galau, Dilema tingkat dewa dan gue benci saat gue merasakan hal itu. Berasa seperti orang paling menyedihkan sedunia.

Gue tidak hidup untuk masa depan, sama sekali gue tidak ingin memikirkan tentang masa depan, memikirkannya sama sekali tidak membantu gue merasa lebih baik. Gue hidup untuk hari ini, berusaha untuk tetap bertahan hidup sampai hari ini berakhir, masa lalu menjadi pelajaran untuk gue bertahan hari ini, gue tetap menghormati masa depan, biarkan dia tetap menjadi sebuah rahasia. Terkadang ada saat-saat dimana gue benar-benar merasa terpuruk dan tidak bisa diselamatkan lagi, membuat gue berharap dunia berhenti berputar dan tidak akan ada lagi hari esok tapi gue bukan siapa-siapa, dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena gue mengharapkannya. Datanglah satu hari lagi dalam hidup gue, mencoba bertahan sekali lagi dan pada akhirnya gue akan selalu bertahan sampai hari ini berakhir. Kematian bukanlah hal yang gue harapkan, untuk apa megharapkan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan akan terjadi dalam hidup gue.

Utamanya hidup bukanlah pilihan, hidup adalah sebuah kebetulan setelah itu barulah kita boleh menentukan hidup kita, lalu akan berubah menjadi takdir kehidupan. Yang harus diakui terkadang itu bisa menjadi sebuah kebetulan yang menyenangkan. Kenapa gue merasa seperti itu, saat kita bertemu seseorang apa mereka adalah orang-orang yang kita pilih untuk bisa kita temui? Gue rasa tidak. Kebetulan gue ikut SNMPTN, kebetulan gue kuliah, kebetulan gue bertemu teman-teman gue, kebetulan gue bertemu Abang, kebetulan gue bertemu Irwan. Jika boleh memilih gue tidak ingin bertemu Abang ataupun teman-teman gue yang lain, untuk apa dipertemukan jika pada akhirnya kita akan berpisah. Gue tidak menyesal bertemu mereka, karena mereka membantu gue belajar, tapi gue menyesal tidak memperlakukan mereka dengan baik.

"Penyesalan selalu datang disaat-saat terakhir" sebenarnya kata-kata itu bukan yang pertama kalinya gue dengar, tapi saat Irwan yang mengatakannya, entahlah.

dia bilang "tidak enak rasanya hidup dengan penyesalan seperti ini..."

"...tapi hidup harus tetap berlanjut, mau tidak mau, suka tidak suka, masa depan harus kita hadapi..." timpal gue.

Dia menambahkan "...masa lalu bukan untuk ditakuti, lo masih muda, sekarang akan menjadi masa lalu, saat lo menyesal ingat lo bukan satu-satunya orang yang menyesali masa lalu, gue dan semua orang yang pernah hidup pasti pernah menyesal. Seperti yang lo bilang hidup akan terus berlanjut"

Itulah Irwan, Sohib gue yang harus gue akui terkadang dia bisa menjadi kakak yang baik buat gue. FYI, perbincangan yang terjadi antara gue dan Irwan tidak terjadi dalam bahasa indonesia yang baku seperti yang dituliskan diatas.

Friday, 1 July 2011

Warna Hari Gue

Pagi ini bangun dan berharap dunia akan bersikap manis pada gue. Ingin rasanya membuang jauh-jauh semua urusan gue, tidak memikirkan surat-surat pindah, tidak memikirkan teman-teman gue.

Semangat pagi diawali dengan lawakan-lawakan gue, yang disadari atau tidak, gue merasa hampir 2 minggu terakhir emosi gue kurang stabil, gue bisa sedih, marah, bahagia disaat yang bersamaan ::Gila kali gue:: hhahaha. Berangkatlah gue dengan kaki sedikit pincang, udah dua hari kaki pincang, sedikit mengkhawatirkan keadaan kaki tapi yaasudahlah. Untungnya hari inipun berangkat selalu dapet duduk dan selalu kosong, roman-romannya entar pulang agak-agak tersiksa nih gue ::curiga::

memilih ke Dukuh Atas2 agar mendapatkan tempat duduk bukanlah hal yang paling benar. Ternyata eh ternyata, TraJa kor 4 pertama yang lewat di depan gue adalah JTM 007 dimana yang bertugas itu adalah seorang SULISTYONO

┌П┐(►_◄)┌П┐

*Siaaaaal! Kenapa kaki gue nggak bisa bergerak* ::paniiik dalam hati::

*Tenang, jangan panik, pura-pura aja nggak kenal... syalalala \(˘ ³˘)/ ♫ ♪*

*anjrit siapa nih yang nyolek tangan gue* sedikit menoleh ::jeng jeng:: Sulis di depan muka gue sambil memamerkan senyum termanisnya ke gue "ayooo! ikut ga?" ::tidak lupa logat jawanya:: tersenyum lemas, sambil menggigit bibir, langsung bergerak ke pegangan terdekat lalu terjatuh disana, bener-bener nggak inget kaki (‾.‾")

di kampus, bertemu dengan kakak Geography yang lucu itu *\(˘▽˘)/*. Lalu tiba-tiba mendengar kabar yang tidak mengenakan, membuat gue berjalan tidak tentu arah, berjalan tanpa tujuan.

Keluar UNJ tidak langsung menuju halte busway, gue ingin menangis, gue benar-benar ingin menangis. Sedikit mengeluarkan air mata, lalu.... *SREEEET* terdengar suara yang cukup menghebohkan warga sekitar, ternyata busway nyerempet bemper mobil di U Turn sebelum Shelter UNJ. Terjadilah adu mulut antara si Empunya Mobil, si Pramudi BusWay, Si OnBoard BusWay dan para pemuda yang bertanggung jawab di U Turn itu.

Kembali melanjutkan perjalanan, sesampainya di velodrome mendapat sms harapan dari Dian Wahyu, kembalilah gue kekampus. Tidak dipungkiri berada di kampus membuat saya sedikit stres. Gue menangis di depan anak Indonesia '08, hadeeuuh, cakep tuh padahal :D

pulanglah gue, sms Sohib dia bilang baru banget berangkat dari DuTas mau ke Ragunan, yasudah, gue memutuskan untuk turun di Matraman dan naek kor 9, ternyata itu hanya membawa masalah lain, tapi kocak juga sih naek kor 9 hari ini, banyak orang lucunya, dan sumpah baruloh pertama kalinya gue naek busway rasanya kaya begini. Hhaha.

Sampailah gue di tegal parang, si doi sms lagi katanya dia masih di duren tiga, tapi nggak tau gimana waktu gue baru jalan di SWPA KunTi, TraJanya doi lewat aja gitu, liat hp ada sms "dut dmana w udah dmampang". Huaaaah, kenapa doi lewat pas lampu ijo sih ::termehek-mehek::

memutuskan ke Stia Budi, eh naek JTM 058 yang bawa si Ganteng looh, #SanSanSantosaCakep. Pas lagi nunggu Irwan ada Ikkieeee, gue kaget ngeliatnya. Mau naek udah penuh banget, ditambah udah janji sama Sohib, alhasil melepas Ikkie.

Ketemu si Sohib juga nggak guna deh. Tapi gue puas ngatain batiknya hari ini. Tapi kenapa doi nggak pake seragam batiknya yang ada gambar BusWaynya yak? Tapi ngatain dia malah dikatain balik "gendut gendut pecicilan deh lo, pantes kaki keseleo"

tapi hari ini bener-bener deh makasih buat orang-orang BAAK, orang TU FBS, Pa' Muchtar, Pa' Djunaedi, Mme Asti, Mba Tuti, M. Usaha, kakak B. Indonesia, Azka Mirra, Dian Wahyu, Ria Ismayani, tukang parkir FIS, kakak Geografi, calon MaBa yang tadi pulpennya gue pinjem, Pramudi, OnBoard PP 024 yang tadi nabrak, yang punya mobil, pemuda pengatur lalulintas, Sulis, Penumpang BusWay Kor 9, SanSan Santosa, Ikkie dan Irwan. Kalian membuat hari gue menjadi lebih berwarna hari ini, setidaknya hari ini hidup gue tidak benar-benar menyedihkan. Dan kakiku, terimakasih masih bertahan untukku karena jika diingat hari ini yang paling tersiksa adalah kamu :* :*

Godaan Sulis

Huaaah, hari ini Sulis menyebalkan. Kalian kenal Sulis? dia itu mantannya gue... mantan gebetan maksudnya. Hhaha.

Gilaaa! kalian tau seberapa besar pengorbanan gue untuk menghindari dia? Setiap naek busway dan tidak sengaja bertemu dia dan memang selalu bertemu dia *yang gue bingung setelah gue berhenti ngebolang intensitas ketemu dia lebih sering dibanding dulu waktu gue sering nunggu dia dan muter-muter kaya orang gila*, gue selalu berusaha untuk tidak tergoda ngikut TraJanya dia, walau rasanya ingin sekali loncat kedalamnya.

Biasanya saat bertemu dia, gue pura-pura tidak menyadari keberadaannya, berusaha tidak menatap matanya tapi gue tetap merasakan detak jantung gue yang berdetak cepat dan akan selalu begitu, dianya juga ga macem-macem, ga ada yang namanya genit-genitan.

Seperti biasa gue ke dukuh atas2, baru berangkat nih ceritanya, pas di latuharhary gue liat TraJa Kor 4 baru mau ke DuTas2 jadi gue memutuskan untuk naik dari DuTas aja, naah, kita langsung keDuTas nih ceritanya. Gue baris di antrian pulo gadung, ga nyangka jika ternyata TraJa blakang gue Sulis T.T. JTM 007, gue ngantri dibarisan ke2, pas ngeliat Sulis gue langsung diem, gue ga maju sama sekali tanpa gue sadari ternyata udah ga ada antrian lagi dibelakang gue. Gue pura-pura nggak liat dia, sumpah, tiba-tiba dia nyolek gue, waktu gue nengok, mukanya si doi *klo bahasanya si Dewi Permatasari* close up, pas gitu langsung di muka gue, memperlihatkan gingsulnya yang membuat dia terlihat sangat manis, gue? Jangan ditanya, langsung speechless, cuman ngegeleng-geleng sambil cengar-cengir.

Sial deh ya tu orang, masalahnya dia tau gue demen sama dia kayanya, itu yang bikin gue malu ketemu doi.

Aku lebai

Untuk kakiku tersayang, kau sudah mengenalku dan hidup denganku seumur hidupku. Aku tau kamu marah padaku karena aku tidak memperlakukanmu dengan baik dan sekarang aku sudah mendapatkan ganjarannya. Maaf kan aku.

Untuk anggota tubuhku yang lain, terimakasih. Kalian telah banyak menolongku, aku sangat bersyukur memiliki kalian seutuhnya, aku tidak bisa melakukan apapun tanpa kalian. Aku mohon ampun, seandainya kalian merasa tersakiti atas perbuatan ku.

Maafkan aku, kalian tau, aku sangat membutuhkan kalian lebih dari apapun.