Thursday, 14 July 2011

PP 036

PP 036 adalah sebuah bus TransJakarta busway, bus yang selalu mengingatkan gue pada seorang Slamet Riyadi, seorang OnBoard busway yang menurut gue sangat baik dan sopan walaupun harus selalu menghadapi penumpang yang terkadang harus gue akui sendiri agak sedikit menyebalkan.

PP 036 adalah busway kenangan gue sama si mas Slamet ini, yaaah seperti yang kalian ketahui gue adalah orang yang lebai :D. Senyumannya, kebaikannya, kesopanannya, kesabaranya tidak ada yang bisa mengalahkannya, gue belum pernah bertemu dengan pria seperti ini, di Jakarta orang seperti ini sudah jarang ditemukan.

PP 036, berkali-kali bertemu Slamet di bus ini, berkali-kali melakukan hal memalukan di bus ini, di bus ini pula gue terakhir melihat anak muda itu.

Hari ini naik PP 036 tanpa disengaja, amat sangat berharap saat memalingkan kepala ada seorang Slamet sedang berdiri bertugas di pintu busway, tapi harapan hanya akan berubah menjadi kecewa, dipintu berdiri seorang pemuda tapi itu bukanlah Slamet Riyadi, dia adalah Dede Priatna, yaa mau diapakan lagi, udah nasib. Duduk dibangku belakang tengah, yang membuat gue bisa melihat setiap sudut PP 036. TraJa hari ini kosong, gue memandang berkeliling, mulai berkhayal dan pikiran gue melayang kemasa-masa kejayaannya Slamet Riyadi.

Gue bisa melihat dengan jelas Slamet Riyadi berdiri dipintu, dengan senyumnya, dengan anggukan kepalanya. Dia memandang gue dan kita (gue dan Slamet Riyadi) tersenyum menahan tawa, itu bukanlah sebuah khayalan belaka, itu datang dari kenangan masa lalu yang benar terjadi berbulan-bulan yang lalu, kita benar-benar saling pandang dan tertawa, kenapa? Di PP 036, gue pulang dan satgas hari itu Slamet Riyadi, cuaca saat itu sangat terik, jalanan Jakarta seperti biasa ramai dan lancar, traja kosong, Slamet menegur seorang siswa SMA yang makan di dalam bus, dengan tegas tapi tetap sopan dan tersenyum *yang mengingatkan gue pada beberapa satgas busway yang terkadang membentak saat melarang penumpang*. Setelah selesai dia memandang gue, mengangkat bahunya dan tersenyum sambil menggigit bibir. Gue bener-bener mau ngakak saat itu. Sebenernya kalo gue cerita kayanya ga lucu ya? Itu lucu bukan karena apa yang dilakukan Slamet ataupun gue, yang lucu adalah siswa SMA itu, anak yang makan yang ditegur oleh Slamet. Bagaimana tidak lucu, anak ini makan nasi dengan daging menggunakan tempat makan dan sendok, sesuatu yang amat sangat tidak pernah gue pikirkan akan ada orang yang melakukan itu di dalam busway, di dalam ada tulisan berisi tentang larangan makan atau minum di dalam TraJa dan gambar sendok dan garpu yang dicoret, jangankan nasi terkadang makan permen atau biscuit saja ditegur petugasnya.

Di TraJa ini juga sirkam gue ilang, gara-gara petakilan ganti tempat duduk biar deket sama Slamet *udah kaya anak kampung naek busway*. Di Matraman kayanya sirkam gue jatuh.

Terakhir melihat Slamet Riyadi hari Jumat tanggal 31 Desember 2010 di PP 036, hari itu gue ingin naik TraJanya dia tapi terkadang apa yang terjadi tidak selalu seperti yang kita inginkan. Pagi hari gue mencari, jujur karena gue memiliki perasaan nggak enak setiap awal bulan yang tidak gue mengerti, Abang pernah bilang biasanya beberapa bulan sekali ada pergantian atau perpindahan atau apalah itu namanya dan biasanya dilakukan per tanggal 1. Sebenarnya gue tidak mengerti bagaimana sistem kerja atau peraturan disana, tapi perpindahan itu memang benar terjadi pada beberapa pegawainya. Yang gue takutkan adalah Slamet akan pindah dan gue tidak akan pernah melihatnya lagi. Hari itu tanggal 31 Desember, akhir bulan dan hari itu juga adalah hari dimana 2 koridor baru dibuka, yang seenggaknya walau gue tidak mengerti gue tidak bego-bego amat dan meyakini 2 koridor baru itu akan mengambil beberapa pegawai dari semua koridor lama. Gue cukup senang saat melihatnya hari itu, melihatnya berdiri di pintu dengan seragam batiknya yang konyol. Gue nggak naik TraJanya, bus yang gue taikin berpapasan dengan busnya dia selepas shelter Manggarai saat gue mengarah ke unj, ingin sekali turun dan menunggunya tapi hari itu gue sudah cukup terlambat.

Kebaikannya membuat gue sangat kehilangan dia, kesopanannya membuat gue sangat mengaguminya, kesabarannya membuat gue sangat merindukannya, senyumannya membuat gue sangat menyukainya.

0 comments:

Post a Comment