Wednesday, 17 August 2011

Slamet Riyadi

Jika ada yang merasa pernah membaca post gue yang satu ini, tolong jangan menggunakan perasaan karena memang post ini pernah gue publish di facebook gue. Tulisan ini menceritakan tentang seorang Slamet Riyadi, seorang pemuda yang sangat luar biasa mengagumkan :))

Slamet Riyadi yang gue maksud bukanlah seorang pahlawan, juga bukan nama salah satu shelter busway di kor 5 (kp. Melayu-Ancol). Slamet Riyadi yang gue maksud hanyalah seorang pemuda yang sangat gue kagumi.

Slamet Riyadi adalah anak muda yang paling baik hati yang pernah gue temui dalam hidup gue, anak muda yang paling sopan, ramah, sabar, rendah hati, tidak sombong dan murah senyum. Gue tidak bilang dia pemuda yang sempurna, hanya saja dia berbeda dari pemuda lain. Susah menemukan anak muda yang seperti dia di Jakarta sekarang ini.

Pemuda ini selalu melakukan semuanya dengan ikhlas, termasuk senyumnya, senyum termanis yang pernah gue lihat, senyumnya seperti menularkan virus yang selalu berhasil membuat gue tersenyum, bahkan dihari terburuk gue.

Seperti Abang, dia menghilang tiba-tiba. Seperti Abang, gue mengenangnya dalam benak gue. Tapi tidak seperti Abang, dia tidaklah lagi kembali muncul *terdengar tragis memang*, daan tidak seperti Abang, gue tidak sempat untuk mengenalnya. Gue tidak mengenal siapa dia, terlalu takut untuk menjalin sebuah pertemanan dengannya, karena *mungkin alasan gue akan terdengar tidak masuk akal dan sangat lebai* gue merasa tidak pantas berteman dengan anak muda seperti Slamet Riyadi karena gue tidak cukup baik untuk menjadi temannya.

Gue sangat mengagumi pemuda ini, gue selalu memperhatikan dia, mengawasi dia, dia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Akhir-akhir ini Slamet Riyadi kembali menghantui gue. Dia datang ke dalam mimpi-mimpi gue, dan selalu ada saat gue memejamkan mata, gue bisa melihat Slamet dengan jelas akhir-akhir ini, matanya, senyumnya, gelang power balance yang dipakainya, handphone Nokia 5300nya, sepatunya bahkan handuk kecil berwarna merah yang sudah pudar yang dia lipat kecil dan ditaruh di kantung celana belakang sebelah kanannya. Semua terlihat jelas dibenak gue, seakan semuanya baru terjadi kemarin.

Gue sangat merindukan anak muda ini. Entah bagaiman semua tentangnya yang gue ingat selalu membuat gue menangis. Senyumnya, cara dia berbicara, saat dia mengatur volume suaranya, dia bisa selalu tahu kapan dia harus bicara keras dan tegas, caranya menghormati orang yang lebih tua, cara dia bersandar dan memejamkan mata, tidak ada kesan sombong dalam dirinya, tidak ada kesan galak dalam dirinya yang ada hanyalah sebuah kenyamanan saat berada didekatnya. Kepribadiannya yang membuat gue selalu menangis jika gue mengingatnya, berharap gue bisa seperti dia.

Pak Kosim bilang Slamet itu anak yang sangat, amat sangat baik, sopan, ya baik sama semua orang dan memang banyak pujian yang diberikan kepadanya, banyak yang bilang OnBoard Kor 4 yang bernama Slamet Riyadi itu baik, sopan dan ramah. Itulah Mas Slamet Riyadi yang gue kagumi. Pak Kosim bilang, jika dia tidak ada di kor 4 mungkin dia pindah ke kor 10, pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Bang Juned.

Slamet Riyadi sebenarnya tidak tampan, hidung besar, mata sipit, kulit cokelat, tapi karena kepribadiannya yang luar biasa dia terlihat sangat tampan dimata gue. Gue bersyukur, walaupun gue tidak mengenalnya, gue bisa tahu jika masih ada pemuda yang sangat ramah di Jakarta.

Satu hal yang gue pelajari dari seorang Slamet adalah apapun yang terjadi, seburuk apapun masalah yang menimpa kita, kita harus tetap bersabar dan tetap tersenyum. Lihatlah Slamet, pekerjaannya tidak semudah yang kita lihat, hanya berdiri di dalam bus berAC. Sebagai seorang SatGas OnBoard TransJakarta menghadapi penumpang itu butuh kesabaran yang extra.

Slamet Riyadi, seorang pemuda yang memiliki kepribadian yang sangat menakjubkan dan betap gue sangat mengaguminya :))

0 comments:

Post a Comment