Sunday, 18 March 2012

gue yang lebai saat itu

sedang mengingat betapa terpukulnya gue saat ditinggal Abang setahun yang lalu lewat note yang gue tulis untuk Abang Rosyid di Facebook. agak sedikit geli sih saat baca itu :

Kelebaiian hidup gue

gue menyerah, gue rasa udah saatnya menerima kepergian Abang O dari hidup gue. pada dasarnya gue baik-baik saja, tanpa seorang Abang, dan memang gue akan baik-baik saja tanpa dia. Karena entah bagaimana gue selalu menyadari jika suatu saat, entah kapan, dan meyakini BUKAN SEKARANG, Abang akan pergi, menghilang, menghilang dari hidup gue, selamanya.

Seperti yang sudah-sudah, semua orang selalu datang dan pergi. Selalu datang menyebarkan kebahagiaan, kegembiraan, keceriaan, kepedihan, kesedihan, kepedulian, lalu tiba2 Pergi dan hanya meninggalkan sebuah "pekerjaan rumah" buat gue.

Tapi sayangnya sekarang Dia sudah pergi, menghilang bak ditelan bumi, tidak menyangka akan secepat ini. Kepergian Abang yang mendadak, yang tiba-tiba menghilang dari dunia gue, memberikan tamparan yang cukup keras pada dunia gue. Tanpa peringatan apapun, Dia menghilang. Entahlah, gue cukup kehilangan, kehilangan sosok seorang Abang yang selalu memanjakan gue, kehilangan seseorang yang selalu memberikan saran untuk gue, memberi tahu apa yang baik dan yang buruk untuk gue, kehilangan seseorang yang selalu mengerti dan selalu tahu perasaan gue setiap harinya *satu hal yang baru gue sadari, Dia tidak pernah ingin tahu apa yang membuat gue sedih hari itu, yang Dia lakukan hanya mengalihkan perhatian gue dari hal-hal yang membuat gue sedih hari itu*, kehilangan seseorang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan saat gue menangis, saat pertama kali gue menangis didepannya, Dia hanya mengatakan "menangis mungkin tidak akan menyelesaikan masalah lo, tapi menangis akan membuat lo merasa jauh lebih baik" tanpa berusaha menghentikan tangisan gue *gue masih nggak tau dia kesurupan setan apa hari itu*. Dan Abang benar, Dia selalu benar dimata gue, hari ini gue menangis, menangis sederes-deresnya, mengingat Dia lagi, mengingat senyumnya, tatapannya, berusaha mendengarkan suaranya, susah payah mengingat tawanya, caranya meminta maaf, merasakan kehangatannya, genggaman tangannya, belaian lembut jemarinya. Gue tahu pasti, dengan menangis Dia tidak akan pernah bisa kembali, tapi dengan menangis gue menyadari jika gue masih hidup, gue masih baik-baik saja, sedikit terluka tapi besok bagaimanapun luka ini akan sembuh, dan gue tidak akan mati hanya karena kehilangan Dia.

Dia mengajarkan banyak hal, memperlihatkan pada gue hal-hal baru, membiarkan gue menjadi diri sendiri saat bersamanya, membimbing dan memberitahu gue bagaimana caranya bersikap dewasa *sesuatu yang sangat sia-sia, menurut gue*, membantu gue saat minum gue tumpah atau saat gue melakukan hal bodoh lain yang memalukan di depan banyak orang, melindungi gue, membuat gue merasa nyaman berada disampingnya, selalu berhasil membodohi gue walaupun pada akhirnya Dia akan mengaku jika Dia berbohong, Dia akan selalu tertawa mendengarkan lawakan-lawakan gue yang garing dan akan mengacak-acak rambut gue setelah itu, terkadang Dia menyebalkan, Dia selalu tahu bagaimana caranya membuat gue marah, 3 menit, Dia tahu gue hanya akan marah selama 3 menit ke Dia, dimenit ke 4 Dia akan minta maaf dengan caranya. Dia berbeda, bagi gue.

Sedikit berat memang, merelakan Dia pergi sekarang, hari ini, begitu banyak penyesalan yang tertinggal, begitu banyak pertanyaan yang tidak pernah terjawab, begitu banyak rahasia yang belum terungkap, yang hanya menjadi sesak didada.

Apa yang gue rasakan hari ini, tidak akan bertahan selamanya. Hari ini gue menangis karena Dia pergi, jujur gue sedih, gue akuin itu. Tapi besok atau entah kapan perasaan ini akan hilang, rasa sedih yang gue rasakan sekarang akan menghilang dengan sendirinya, tapi gue akan tetap membiarkan Abang dan semua kenangannya hidup dibenak gue dan suatu hari nanti, saat gue sudah jauh lebih dewasa *seperti yang diharapkan semua orang dan Dia*, gue akan kembali menangisi Dia, menangis bahagia karena Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup gue dan sudah membantu gue menuju proses pendewasaan.