Thursday, 13 October 2011

Doi

Gue ingin menceritakan sesuatu tentang Irwan lagi, udah lama tak berjumpa dengannya *baru 3 minggu, eh salah deng 2 minggu 6 hari lebih tepatnya. huehehehe*. Jadi memang gue sudah merencanakan untuk bertemu dengannya, kejutan sih sebenernya jadi nggak sms, tapi sekali lagi rencana yang sudah gue buat selalu tidak berhasil, bertemu dengan cara yang sama sekali tidak terduga *yaudah siih yaaa, biarin aja, yang penting ketemu, rempong deh gue*. Ketemu doi yang tiga minggu nggak ketemu, pertama yang ada dipikiran gue saat pertama kalinya bertemu dengan doi “kenapa dia tambah cakep” *huaaaah, nggak, nggak, nggak boleh suka sama dia (  ̀З ́ )_,/(>_<”!)* #gigitjari#, tapi sumpah gue nggak bohong, dia jauh lebih kurus.

Ngeliat dia di DuTas2, akhirnya gue sms dia juga deh, terpaksa itu juga *ngibul (ˇзˇ)♪♫ * “eh, eh, eh, dirimu ada di dutas yaaah?” sms gue, nggak ada semenit balesan dari dia nyampe di hape gue, tilulittilulit, uhm sebenernya hape gue lagi di silent sih “ko tau? Tadi ngeliat yaah? Ko g manggil?” “hadeeeuh, masa iya gue teriak-teriak di bus (¬_¬) ini gue masih di shelter” percaya atau nggak gue nungguin balesan dari doi *tutupin muka pake bantal* #malu#, semenit nggak ada balesan, ada TraJa Kor 6 yang dateng, kecewa tapi pas gue mau naek, eh doi nongol dibelakang gue dan bilang “entar aja ndutt naeknya…..” gue bengong *efek terpana ngeliat dia, tapi gue langsung buang muka dan nggak mau natap matanya dan bilang “awas kalo sampe penuh yaaaah Tra…” *gue nggak pengen ngobrol aja sama dia di Shelter, pertama banyak satgas lain di DuTas 2 hari itu, kedua DuTas penuh banget, banyak penumpang yang baru pulang dari jalan-jalan* “…gue putus sama cewe gue” lanjutnya, itu yang bikin gue langsung menatapnya, sedikit merasa bersalah karena secara tidak sadar gue sempat memberikan tawa sumringah ke dia, huehehehe semoga doi nggak sadar #crossmyfinger#, saat mendengar berita mengejutkan itu jujur ada perasaan senang, lega, sedih dan sedikit rasa bersalah.

Kebiasaan buruk gue saat mendengar sesuatu yang buruk pada teman gue adalah selalu menepuk pundaknya dan hanya “sabar ya Gan” yang keluar dari mulut gue. Dia selalu tertawa saat gue melakukan hal bodoh itu. Dia bilang dia baik-baik saja, karena ini memang yang dia mau dan dia yang mutusin, bahwa dia justru lebih tenang dan senang sekarang, apa gue harus percaya akan hal itu? Apa hatinya tidak benar-benar terluka akan hal itu? Dia mengalihkan pembicaraan *as always*, bertanya tentang Astar, tentang keputusan gue, gue sedang tidak ingin membicarakan kisah cinta gue, sebenarnya bahkan gue tidak tahu apa yang harus gue ceritakan ke dia karena gue memang tidak tahu apa yang terjadi sama kisah cinta gue. *mau nangis ╥,╥ #tutupin muka pake kipas#*

Untungnya sore itu, banyak sekali penumpang, jadi banyak juga penumpang yang mengganggu pembicaraan kami, jadi gue tidak perlu melanjutkan cerita tentang percintaan gue, mereka memotong dengan bertanya mana BusWay yang ke Ragunan, mana yang ke Kuningan, mana yang ke pl. gadung, mana yang ke Matraman dan sebagainya. Ada kejadian lucu dengan salah satu penumpang, dimana ada segerombol mas-mas *yang mukanya beneran mas-mas banget* nanya ke Irwan, saat itu dia lagi cerita tentang alasan dia memutuskan ceweknya, mereka cukup menyita perhatian gue sejak awal mereka datang, mereka datang dari arah kota sesampainya di DuTas2, mereka sepertinya bingung dan ingin bertanya, hanya saja memang saat itu ramai sekali jadi semua patroli itu dikerubungi oleh orang-orang yang juga bingung. Akhirnya salah seorang temannya menyadari keberadaan Irwan di depannya, dia bertanya arah pl. gadung, Irwan lagi cerita telihat dari wajahnya jika dia sedang serius, tapi jujur gue sudah tidak mendengarkan Irwan sejak kedatangan mas-mas ini *maaf ya Gan (˘/\˘)*, si mas itu bertanya “kalo mau ke pl. gadung disini ya?” *menunjuk kearah Ragunan* si Irwan hanya memberikan anggukan dengan menunjuk kearah Ragunan juga, “makasih ya!” ujarnya, gue? Langsung heboh sendiri “EEEHH MAS! Gadung disana ini mah barisan Ragunan” si Irwan cuman bilang iya aja lagi kaga pake bilang maaf, alhasil gue yang maaf “maaf mas dia mah emang rada-rada”, untungnya si masnya nggak marah.

Karena semakin ramai yaudahlah, gue suruh doi kerja lagi, lagian juga dia mau ngasih laporan plus shalat maghrib, gue pulang deh dan menikmati setiap detik perjalanan yang gue tempuh malam itu, saat gue pikir-pikir sudah lama sekali rasanya tidak naik TransJakarta malam hari, menikmati setiap keindahan Jakarta malam hari *\(˘˘)/*

0 comments:

Post a Comment