Thursday, 7 July 2011

Apa ini?

Lagi-lagi gue bimbang, galau, Dilema tingkat dewa dan gue benci saat gue merasakan hal itu. Berasa seperti orang paling menyedihkan sedunia.

Gue tidak hidup untuk masa depan, sama sekali gue tidak ingin memikirkan tentang masa depan, memikirkannya sama sekali tidak membantu gue merasa lebih baik. Gue hidup untuk hari ini, berusaha untuk tetap bertahan hidup sampai hari ini berakhir, masa lalu menjadi pelajaran untuk gue bertahan hari ini, gue tetap menghormati masa depan, biarkan dia tetap menjadi sebuah rahasia. Terkadang ada saat-saat dimana gue benar-benar merasa terpuruk dan tidak bisa diselamatkan lagi, membuat gue berharap dunia berhenti berputar dan tidak akan ada lagi hari esok tapi gue bukan siapa-siapa, dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena gue mengharapkannya. Datanglah satu hari lagi dalam hidup gue, mencoba bertahan sekali lagi dan pada akhirnya gue akan selalu bertahan sampai hari ini berakhir. Kematian bukanlah hal yang gue harapkan, untuk apa megharapkan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan akan terjadi dalam hidup gue.

Utamanya hidup bukanlah pilihan, hidup adalah sebuah kebetulan setelah itu barulah kita boleh menentukan hidup kita, lalu akan berubah menjadi takdir kehidupan. Yang harus diakui terkadang itu bisa menjadi sebuah kebetulan yang menyenangkan. Kenapa gue merasa seperti itu, saat kita bertemu seseorang apa mereka adalah orang-orang yang kita pilih untuk bisa kita temui? Gue rasa tidak. Kebetulan gue ikut SNMPTN, kebetulan gue kuliah, kebetulan gue bertemu teman-teman gue, kebetulan gue bertemu Abang, kebetulan gue bertemu Irwan. Jika boleh memilih gue tidak ingin bertemu Abang ataupun teman-teman gue yang lain, untuk apa dipertemukan jika pada akhirnya kita akan berpisah. Gue tidak menyesal bertemu mereka, karena mereka membantu gue belajar, tapi gue menyesal tidak memperlakukan mereka dengan baik.

"Penyesalan selalu datang disaat-saat terakhir" sebenarnya kata-kata itu bukan yang pertama kalinya gue dengar, tapi saat Irwan yang mengatakannya, entahlah.

dia bilang "tidak enak rasanya hidup dengan penyesalan seperti ini..."

"...tapi hidup harus tetap berlanjut, mau tidak mau, suka tidak suka, masa depan harus kita hadapi..." timpal gue.

Dia menambahkan "...masa lalu bukan untuk ditakuti, lo masih muda, sekarang akan menjadi masa lalu, saat lo menyesal ingat lo bukan satu-satunya orang yang menyesali masa lalu, gue dan semua orang yang pernah hidup pasti pernah menyesal. Seperti yang lo bilang hidup akan terus berlanjut"

Itulah Irwan, Sohib gue yang harus gue akui terkadang dia bisa menjadi kakak yang baik buat gue. FYI, perbincangan yang terjadi antara gue dan Irwan tidak terjadi dalam bahasa indonesia yang baku seperti yang dituliskan diatas.

0 comments:

Post a Comment