Saturday, 18 June 2011

Jakarta; nerakaku surgaku

Walaupun gue bukan orang Jakarta nih, tapi gue cinta, bener-bener cinta sama Jakarta, dengan sepenuh hati. *Asiiik dah bahasa gue. Hhaha* :))

Sebagai orang luar Jakarta yang hampir setiap hari pergi ke sana, dan menghabiskan sepanjang hari dengan melihat kehiruk pikukan yang terjadi di setiap sudut kota, gue tetap menikmatinya.

Saat kemacetan tidak lagi bisa dijadikan alasan untuk datang terlambat, gue tetap akan setia dengan kota ini.

Hidup dipinggiran Jakarta, dimana Jakarta Kota jauh lebih dekat dari tempat tinggal gue dibandingkan Tangerang Kota, gue lebih suka menghabiskan waktu gue, menghilangkan penat gue, mengejar kebahagiaan gue di Jakarta.

Jakarta diguyur hujan adalah yang terbaik bagi gue *ka Ros pernah bilang "ujan itu bawa berkah, klo ujan terus doa, Insya Allah doanya dikabulin", yaaah kurang lebihnya si Njos ngomongnya begitu, gue juga udah lupa*, karena saat hujan turun tidak ada ketegangan di langit Jakarta, tidak ada emosi, polusipun berkurang, tapi setelah hujan tentu saja dapat dipastikan kemacetan akan terjadi.

Setiap siang jika tidak hujan, maka Jakarta akan disinari oleh matahari yang membara. Panasnyoooo Jakarta itu. Panasnya sampai membakar kulit dan merasuk ketulang. Jakarta selalu membuat gue mandi keringat di jalan, ditambah kemacetan yang juga terjadi disiang hari, untung ada TransJakarta BusWay.

Malam hari tidak kalah hebatnya. Walau malam hari, terkadang tidak jauh beda dengan pagi atau siang hari yang selalu macet, tapi dimalam hari pesona yang dimiliki kota ini bisa terlihat jelas. Perpaduan cahaya yang datang dari mobil dan motor yang melewati jalanan Jakarta, lampu jalan yang berdiri tegak di setiap jalanan ibu kota dan gedung-gedung tinggi yang ada membuat Jakarta terlihat lebih bersahabat.

0 comments:

Post a Comment